Pontianak Kalimantan Barat

Beginilah Gaya Bupati Sambas Lobi Bisnis

Posted on 30 June 2010 by imeu

PONTIANAK, TRIBUN - Bupati Sambas Burhanuddin A. Rasyid, dibantu penerjemah, menjelaskan potensi investasi di daerah yang dipimpinnya pada sejumlah pengusaha Timur Tengah, Selasa (29/6/10) di Grand Mahkota Hotel, Kota Pontianak, Kalimantan Barat.

Lewat tayangan di layar laptop, Burhanuddin menjelaskan kesiapannya menyediakan lahan investasi, berupa proyek pembangunan bandara skala internasional seribu hektare, kepariwisataan, dan pengolahan jeruk.

Panitia menyediakan beberapa meja bulat di hotel itu, dan disertai nama pengusaha yang hendak dilobi. Selain itu, Bupati Kabupaten Pontianak Ria Norsan juga tampak serius memaparkan proyeksi pembangunan pelabuhan laut.

Di layar laptop, tampak aneka desain ditunjukkan pada para pengusaha berdarah Arab yang tampak serius menyimak. Berdasarkan pantauan Tribun, hanya dua bupati itu yang tampak “beredar” di forum bertajuk Indonesia-Middle East Update tersebut.

Mereka pindah dari satu meja pengusaha ke meja pengusaha yang lain, untuk melakukan lobi. Tak hanya dua bupati, sejumlah pengusaha lokal juga tampak melakukan pembicaraan tersendiri.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah Kalbar, Zeet Hamdy Assovie mengatakan, sembilan proyek besar siap ditawarkan. Kita tunggu saja seperti apa komitmen para pengusaha asing itu untuk berinvestasi di Kalbar.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

IMEU PONTIANAK SUKSES TARIK INVESTOR

Posted on 30 June 2010 by imeu

Pada tanggal 29–30 Juni 2010 Kementerian Luar Negeri RI, bekerjasama dengan Perwakilan-Perwakilan RI di kawasan Timur Tengah serta Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat telah menyelenggarakan acara Indonesia-Middle East Update bertempat di Hotel Grand Mahkota Pontianak, Kalimantan Barat.

Forum bisnis dan investasi ini merupakan program tahunan Direktorat Timur Tengah, Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri RI. Dalam kesempatan ini, komunitas pelaku usaha dari Indonesia dan Timur Tengah dapat saling bertemu dan melakukan kontak langsung serta menjajaki kemungkinan untuk dapat mengadakan hubungan bisnis baik di masa kini maupun di masa yang akan datang.

Forum ini juga merupakan wahana pertukaran informasi pasar di antara komunitas pelaku usaha kedua belah pihak, yang diharapkan dapat membangun dan memperkuat market awareness baik di kalangan pelaku usaha Indonesia maupun Timur Tengah. Acara ini diharapkan dapat menjadi perekat hubungan sosial dan budaya serta instrumen diseminasi informasi dan promosi yang dapat mendekatkan kedua pasar potensial tersebut.

Di samping itu, kegiatan Indonesia – Middle East Update ini dapat digunakan sebagai sarana diplomasi publik melalui pelibatan berbagai lini bangsa, baik individu, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan badan usaha pemerintah dan swasta untuk membangun citra bangsa melalui soft power diplomacy, khususnya melalui pengembangan kerjasama di bidang ekonomi yang sekaligus mendorong peningkatan people to people contact untuk menjalin persahabatan yang lebih erat dengan bangsa-bangsa di kawasan Timur Tengah.

Penyelenggaraan kegiatan Indonesia – Middle East Update kali ini yang diadakan di kota Pontianak didasarkan pertimbangan bahwa Provinsi Kalimantan Barat merupakan salah satu daerah yang memiliki sumber daya alam yang potensial untuk pengembangan kerjasama perdagangan, investasi dan pariwisata antara Indonesia dan Timur Tengah, yang selama ini belum begitu dikenal oleh masyarakat Timur Tengah. Disamping itu, kegiatan ini merupakan upaya untuk memberi kesempatan dan perhatian secara merata kepada seluruh wilayah di Indonesia dalam membangun kerjasama di segala bidang dengan negara-negara kawasan di Timur Tengah.

Sehubungan dengan itu, dalam rangka lebih mendekatkan kalangan pelaku usaha dengan kekayaan potensi pasar Kalimantan Barat ini, acara Indonesia-Middle East Update juga diisi dengan kunjungan ke beberapa sentra keunggulan ekonomi dan pariwisata Kalimantan Barat.

Bertolak dari hal-hal tersebut, diharapkan acara ini dapat meretas jalan bagi komunikasi langsung yang lancar antara komunitas bisnis kedua pihak baik Indonesia maupun Timur Tengah, yang pada gilirannya diharapkan akan meningkatkan hubungan kerjasama di bidang perdagangan, investasi, pariwisata dan di berbagai bidang lainnya demi mencapai kepentingan kedua belah pihak serta dapat membuka jalan bagi penetrasi pasar ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah, yang telah dicanangkan oleh Pemerintah RI sebagai pasar ekspor non-tradisional prioritas dalam rangka memperluas pasar ekspor nasional termasuk di bidang non-migas guna menunjang upaya peningkatan perolehan devisa negara.

Rangkaian acara Indonesia-Middle East Update di Pontianak ini selain diisi dengan acara seminar dan dialog interaktif, one-on-one business meeting dan field trips ke Tugu Khatulistiwa, Aloevera Center, PT Niramas produsen Inaco Aloevera, dan PT. Bumi Persada Khatulistiwa (perusahaan pengolah Kelapa Sawit dan CPO), diselenggarakan juga West Kalimantan Investment Forum dengan menghadirkan pembicara dari Pemerintah Kalimantan Barat, para Duta Besar RI dan Timur Tengah, Perwakilan dari KBRI dan Kedubes Timur Tengah, serta undangan lainnya.

Dari sisi partisipasi, hadir dalam acara ini 50an pengusaha Indonesia dan 12 pebisnis Timur Tengah seperti dari Persatuan Emirat Arab, Yordania, Libya dan beberapa negara lainnya. Acara ini juga didukung oleh partisipasi aktif dari sekitar 190 peserta dari berbagai kalangan stakeholders di Kalimantan Barat. Pada kesempatan ini pebisnis dari PEA menyatakan siap berinvestasi pada pembangunan pelabuhan laut di wilayah Temajok. Disamping itu berhasil pula disepakati rencana kerjasama perdagangan dalam komoditas kelapa (coconut), minyak sawit, dan hasil pertanian lainnya, serta rencana pembangunan industri ceramic tiles. KUAI Embassy Tunisia menyatakan kesiapannya untuk ikut memperkenalkan beberapa jenis Kapal produksi PT. Steadfast Marine kepada pihak-pihak terkait di Tunis.

Keseluruhan rangkaian acara Indonesia – Middle East Update di Pontianak ini berlangsung dengan baik, lancar dan sukses berkat dukungan penuh dari Pemprov Kalimantan Barat dan segenap instansi yang bernaung di bawahnya seperti BPMD, Bappeda, Dinas Perindag, Kadin Provinsi, Perwakilan-perwakilan RI serta pihak-pihak terkait lainnya.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Kalbar Tawarkan 9 Proyek ke Timteng

Posted on 30 June 2010 by imeu

PONTIANAK, TRIBUN - Sebanyak sembilan major project di Kalbar, ditawarkan kepada para pengusaha Timur Tengah. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Kalbar, Zeet Hamdy Assovie, memaparkan, kesembilan proyek tersebut berkisan seputar pembangunan laut dan udara, jalan, dan sentra bisnis.

“Saat ini belum ada sama sekali investasi Timteng yang ditanamkan di Kalbar. Yang sudah ada baru sebatas perdagangan umum, tapi bukan penanaman modal,” jelas Zeet dalam jumpa pers Indonesia-Middle East Update, Selasa (29/6/10) di Hotel Grand Mahkota.

Dia menilai, Kalbar jauh ketinggalan dibandingkan provinsi lain dalam hal penyerapan investasi dari Timteng. Sebagai gambaran, Kaltim telah menandatangani kesepakatan investasi Tambang dengan Timteng senilai Rp 50 triliun.

Merauke di Papua Barat juga telah menyepakati investasi food estate industry senilai Rp 40 triliun. Sementara di Kalbar, investasi dominan dari pengusaha Malaysia berupa industri perkebunan kelapa sawit.

“Kita targetkan ke depan nanti investai Timteng bisa mencapai 10 sampai 15 persen dari total investasi asing di Kalbar,” kata Zeet.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Tawarkan Sembilan Mega Proyek: Bidik Pengusaha Timur Tengah

Posted on 30 June 2010 by imeu

PONTIANAK Post – Untuk meningkatkan perekonomian di Kalbar, Badan Pengelola Modal Daerah Provinsi Kalbar menggaet pengusaha Timur Tengah untuk mengembangkan investasinya di Kalbar. Terdapat sembilan proyek yang ditawarkan pihak BPMD, diantaranya Pelabuhan Internasional Sungai Kunyit, Pelabuhan Khusus Tanjung Gundul, Bandara Singkawang, Jalan Lintas Kalimantan, Pengembangan Kereta Api, zona industri Semparuk, Terminal Entikong, Industri Perkebunan Mandor, dan Pengembangan Air Minum di Kota Singkawang. Demikian disampaikan Kepala BPMD Kalbar, M.Zeet Hamdy Assovie, pada kegiatan Regional Investment Board of West Kalimantan – Middle East, di Hotel Mahkota, Selasa (29/6).

Zeet menjelaskan, proyek Pelabuhan Sungai kunyit Internasional berlokasi di Kabupaten Pontianak. Menggunakan lahan 350 Ha, dengan biaya investasi Rp7 triliun. Pelabuhan ini nantinya akan berfungsi sebagai sarana bongkar muat kargo dan container, CPO, BBM, penumpang, serta kendaraan dan wisatawan.Pelabuhan Khusus Tanjung Gundul yang berlokasi di Kabupaten Bengkayang, dengan areal 350 Ha dan biaya investasi Rp2,2 triliun, berfungsi sama dengan pelabuhan Sungai Kunyit. Selain itu, Bandara di Singkawang, areal 500 Ha dengan biaya investasi Rp1,2 Triliun, berfungsi sebagai sarana transportasi, pengiriman kargo.Untuk jalan lintas Kalimantan, akan dibagi dalam tiga wilayah yaitu poros selatan 470 Km, dengan nilai investasi Rp600 Miliar, sumbu tengah 486 Km nilai investasi Rp840 Miliar, bagian Utara 966 Km dengan nilai investasi Rp5,3 triliun. Mengenai pengembangan Kereta Api, Zeet melanjutkan, direncanakan untuk mengantisipasi Pertumbuhan Industri di daerah – Sarawak Malaysia, proyek Gas Alam Natuna, dan pembukaan Paloh dan Sajingan.

”Rencana pembangunan Kereta Api prioritas tinggi adalah Pontianak – Mempawah – Singkawang-Sambas – Kuching, dengan panjang 298,5 km, prioritas sedang Sanggau – Pontianak, panjang 150 km, dan Prioritas rendah (Sanggau – Sintang – Putussibau, Sambas- Sanggau, dan Sanggau – Pangkalanbun) panjang 892,5 km, dengan biaya Investasi estimasi pada Prioritas Tinggi untuk jalan dan jembatan kereta api dan bangunan Stasiun  Rp2,45 Miliar, sementara lokomotif dan gerbong KA adalah Rp132,86 Juta,” jelas dia. Ditambah lagi zona industri Semparuk, yang diperuntukkan bagi industri pengolahan produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan peternakan, produk industri pengolahan pertambangan, area perumahan, serta perdagangan dan area layanan.

Sedangkan pengembangan border Entikong, yang berlokasi di Kabupaten Sanggau, akan memakai areal seluas 38,9 HA, dengan biaya Investasi: Rp55 Miliar, Serta proyek lainnya yaitu industri perkebunan di Mandor, serta pengembangan air minum di Kota Singkawang dengan Rp280 Miliar. “Saat ini investasi kebijakan dan peraturan telah diperbaiki untuk memberikan perlakuan nasional bagi investor asing. Sehingga sektor ekonomi telah terbuka bagi orang asing, termasuk real estate, perbankan dan keuangan, infrastruktur, dan sebagainya. Oleh sebab itu, selain pengembangan kerja sama CAFTA kita juga menaik investor Timur Tengah,” ujar Zeet. Menurut Zeet, Kalbar mengatur agenda yang memberikan prioritas untuk mendorong kegiatan ekonomi di era globalisasi, diantaranya dengan mengembangkan fungsi pemasaran dan infrastruktur komprehensif, memperluas pasar bagi real estat, kesempatan kerja, serta teknologi.Situasi bisnis di Kalbar tidak menarik seperti di provinsi lain atau negara-negara lainnya. Menurut dia, hal ini disebabkan rendah pendapatan daerah, kurangnya infrastruktur, tidak komprehensifnya Masterplan Pembangunan Ekonomi, dan sulitnya Birokrasi. ”Oleh sebab itu, kami melakukan penelitian investasi yang komprehensif sebagai konsekuensi dari investasi pembangunan di Kalbar, sehingga kebijakan yang dilakukan Pemerintah Provinsi Kalbar akan disesuaikan dengan tujuan pembangunan perekonomian,” jelas Zeet.(wah)

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Kemenlu: Ubah Pandangan Bisnis Dengan Timur Tengah

Posted on 30 June 2010 by imeu

Pontianak 30 Jun 2010 (antaranews.com, indonesia.go.id) – Pengusaha di Indonesia perlu mengubah pandangan mengenai kerja sama bisnis dengan Timur Tengah, kata Acting Director Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Abdul Mun`im.  “Pandangan itu perlu diubah, karena banyak anggapan keliru tentang bisnis dengan negara di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya,” katanya, di Pontianak, Selasa.

Menurut dia, mengingat mayoritas penduduk di kawasan itu Muslim, maka pihak-pihak yang terlibat di bisnis kedua negara harus Muslim juga. “Padahal ini anggapan yang keliru,” katanya. Ia mengatakan nilai perdagangan Indonesia dengan negara di kawasan Timur Tengah masih di bawah Filipina atau Jepang.

Namun, menurut dia, Indonesia termasuk terlambat dalam menjalin kerja sama bisnis yang intensif dengan negara-negara petro dolar tersebut. India yang mayoritas penduduknya beragama Hindu, menjadi salah satu negara tujuan investasi Timur Tengah. “Negara-negara petro dolar itu bingung dananya mau disimpan ke mana. Kalau dulu ke Amerika Serikat,” katanya.

Duta Besar Indonesia untuk Abu Dhabi M. Wahid Supriyadi mengibaratkan bahwa uang tidak mengenal agama. Indonesia sebagai negara berpenduduk terbanyak di Asia Tenggara, nilai perdagangannya masih di bawah Malaysia dan Singapura. Ia mencontohkan Persatuan Emirat Arab yang menginvestasikan dananya 15,8 miliar dolar AS. Sedangkan yang masuk mencapai 13,7 miliar dolar AS. Total impor Persatuan Emirat Arab pada 2009 sebesar 123,1 miliar dolar AS, dengan re-ekspor 40,15 miliar dolar AS. (T011/K004)

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Mereka Itu Negara Petro Dollar

Posted on 30 June 2010 by imeu

PONTIANAK, TRIBUN 29 Jun 2010 – Direktorat Timur Tengah Kementerian Luar Negeri RI, Abdul Mu’in mengajak Pemprov Kalbar dan kalangan pelaku usaha, untuk tebar pesona tentang daya tarik investasi ke negara-negara Timur Tengah.

“Mereka itu negara petro dollar, negara kaya, sampai-sampai bingung uangnya mau dikemanakan,” kata Mu’in saat menggelar jumpa pers di forum Indonesia-Middle East Update, Selasa (29/6/10).

Menurut dia, Indonesia termasuk Kalbar terkesan terlambat menangkap peluang ini. Buktinya, industri terbesar Timteng justru dilaburkan ke India, disusul China.

“Dalam hal investasi, tidak memandang negara muslim atau bukan. Ini soal peluang dan kesempatan yang harus kita rebut,” tegasnya.

Utusan Dirjen Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri RI, yang juga mantan Kepala Perwakilan RI di Siyria, Muzammil Basyuni, mengatakan, forum ini sengaja digelar untuk mempertemukan berbagai stakeholder binis di Indonesia, termasuk Kalbar, dengan para investor petro dollar tersebut.

“Melihat bersemangatnya peserta forum, saya optimistis akan berkembangnya iklim investasi di Kalbar, dengan masuknya para investor baru ini,” ujar Basyuni.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Bupati Sambas Tawarkan Bandara kepada Investor

Posted on 29 June 2010 by imeu

PONTIANAK, TRIBUN - Bupati Sambas, Burhanuddin A Rasyid, satu di antara beberapa kepala daerah yang hadir di forum Indonesia-Middle East Up Date di Hotel Markota Pontianak, Selasa (29/6) menawarkan bandar udara (bandara) sebagai peluang investasi bagi pengusaha Timur Tengah.

“Oh, banyak yang bisa kami bisa tawarkan, seperti airport di Paloh. Kami bisa tawarkan airport di Paloh. Ada lahan seribu hektar di sana,” ujar Burhanuddin kepada Tribun,di sela-sela acara.

Areal bandara, kata dia, sudah melalui feasibility study dan dinilai layak. Selain bandara, dia juga menawarkan pengelolaan pariwisata di Pantai Paloh. “Pemandangannya indah dan tak kalah dengan pantai-pantai yang ada di Thailand,” ujarnya dilanjutkan senyuman.

Tetapi, Burhanuddin menegaskan, dia tak akan mengeluarkan izin baru untuk pembukaan lahan skala besar bagi industri perkebunan kelapa sawit. Lahan di Sambas sudah begitu sempit dan tak memungkinkan lagi untuk ditawarkan ke investor.

“Produk ikutan dari bahan yang sudah ada, bisa dikembangkan. Seperti buah jeruk, investor bisa mengolahnya menjadi jus atau tepung buah,” sambungnya.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Libya butuh pekerja Indonesia

Posted on 29 June 2010 by imeu

PONTIANAK (bataviase.co.id) – Libya membutuhkan bahan baku dan tenaga kerja dalam jumlah banyak untuk pembangunan infrastruktur yang mulai digarap secara besar-besaran. Duta Besar Indonesia untuk Libya, Sanusi menjelaskan Libya selaku negara terbesar keempat di Afrika bagian utara mengandalkan ekspor minyak bumi dan gas. Negara berpenduduk sekitar 6 juta jiwa itu menghasilkan 2 juta barel minyak per hari.

“Selain bahan baku, Libya juga butuh banyak tenaga kerja untuk pelaksana pembangunan infrastruktur, yakni staf, engineer, dan tenaga teknis lainnya,” katanya saat acara Indonesia – Middle East Update kemarin. Provinsi Kalimantan Barat, sambungnya, berpeluang menangkap potensi kerja sama itu karena menjadi penghasil kayu di Indonesia. Sekitar 85% kebutuhan negara Libya masih diimpor. (santara)

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Nilai CPO Kalbar Berkurang Rp200 Miliar pertahun

Posted on 29 June 2010 by imeu

Selasa 29 Juni 2010 (beritadaerah.com) – Nilai crude palm oil Kalimantan Barat berkurang Rp200 miliar setiap tahun karena tidak adanya pelabuhan khusus untuk ekspor CPO secara langsung.  “Setiap tahun, Kalbar ekspor satu juta ton CPO. Karena tidak ada pelabuhan ekspor, nilai satu kilogram berkurang Rp200,” kata Ketua II Gabungan Pengusaha Perkebunan Indonesia (GPPI) Kalbar Ilham Sanusi di sela “Indonesia – Middle East Update” di Pontianak, Selasa. Menurut dia, kalau uang sebanyak itu digunakan untuk membangun pelabuhan, dalam waktu lima tahun sudah tuntas.

Ekspor CPO atau minyak sawit mentah Kalbar biasanya melalui Pelabuhan Belawan (Medan) dan Tanjung Priok (Jakarta). “Dari pabrik, dibawa lagi ke kapal berkapasitas 50 ribu ton,” katanya.  Ia menambahkan, dengan biaya bongkar dan angkut itu membuat CPO Kalbar menjadi “high cost”.  Selain itu, lanjut dia, ketika nilai CPO naik di pasar dunia, pemerintah mengenakan pajak ekspor.

“Tetapi Kalbar tidak mendapat keuntungan dari pengembalian nilai pajak itu, karena diberikan ke daerah yang mempunyai pelabuhan,” kata Ilham Sanusi.
Ia berharap, pengusaha Timur Tengah membangun industri turunan dari produk CPO.  “70 persen pemilik kebun sawit di Kalbar orang asing dan belum ada dari Timur Tengah,” kata Ilham Sanusi.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Kalbar Targetkan Perdagangan Timteng Naik 15 Persen

Posted on 29 June 2010 by imeu

Selasa, 29 Juni 2010 (beritadaerah.com) – Provinsi Kalimantan Barat menargetkan nilai perdagangan dengan Timur Tengah dan negara di sekitar kawasan itu naik 10 – 15 persen tahun depan. “Kalau sekarang nilainya masih sangat sedikit, tidak dalam bentuk investasi langsung,” kata Kepala Badan Penanaman Modal Daerah Kalbar, M Zeet Hamdy Assovie di Pontianak, Selasa. Ia menyampaikan hal itu di sela “Indonesia – Middle East Update” yang berlangsung di Hotel Grand Mahkota Pontianak.

Menurut dia, selama ini masih dalam kategori perdagangan biasa. “Makanya perlu banyak-banyak komunikasi,” kata dia. Ia menambahkan, Kalbar perlu menangkap peluang dari kemampuan keuangan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Sebelumnya, Kalbar juga menjalin kerja sama ekonomi dengan sejumlah negara seperti China, Australia, dan Selandia Baru. “Optimisme, kerja sama dengan Timur Tengah dapat tumbuh 10 persen sampai 15 persen pertahun,” kata M Zeet Hamdy Assovie.

Wakil Ketua Kadin Kalbar Soetaryo Suradi mengatakan, nilai ekspor ke kawasan Timur Tengah sangat sedikit. “Pertemuan dengan pengusaha Timur Tengah sangat bermanfaat bagi dunia usaha di Kalbar,” kata Soetaryo Suradi. Ia mencontohkan ada “lampu hijau” dari pengusaha Dubai selaku pengelola pelabuhan terbesar keempat di dunia terkait tawaran pembangunan Pelabuhan Internasional di Kabupaten Pontianak. “Setelah ini harus ada tindak lanjut dengan membentuk tim yang lebih serius,” katanya. Ia sepakat, Indonesia harus mengalihkan negara-negara tradisional tujuan ekspor yang sudah stagnan malahan nilainya cenderung menurun. Perwakilan dan pengusaha 17 negara dari kawasan Timur Tengah, perwakilan Indonesia di Timur Tengah, sejumlah duta besar seperti Yordania, Palestina dan Libya, hadir dalam pertemuan dengan pengusaha dan pemerintah daerah di Kalbar. Pertemuan itu difasilitasi Kementerian Luar Negeri dengan tema “Indonesia-Middle East Update Forum”.

WEST KALIMANTAN OFFERS LARGE-SCALE PROJECTS TO MIDEAST BUSINESSMEN

Posted on 29 June 2010 by imeu

Pontianak – Tuesday, 29 Juni 2010 (antaranews.com; indonesia.go.id; beritadaerah.com; kominfo newsrook) – The West Kalimantan provincial administration aims to offer nine large-scale projects valued at Rp55 trillion to Middle East governments and businessmen during a business forum opening here on Tuesday  (29/2).

The projects include the construction of an international seaport in Tanjung Gundul, Bengkayang Regency, an airport in Singkawang and Trans Borneo Railway network.
“All the projects have already conducted pre-feasibility studies. If not, we do not offer them”, Head of the West Kalimantan Capital Investment Coordinating Board (BKPM) M. Zeet Hamdy Assovie said on Tuesday (29/6).

Several government  representatives and businessmen from 17 Middle East countries as well as Middle East ambassadors accredited to Jakarta were scheduled to attend the business event.

Under the theme “Indonesia Middle East Update Forum”, the forum is jointly held by the Ministry of Foreign Affairs, local provincial administrations  in cooperation with  Indonesian Missions in  Middle East countries.

Middle East businessmen have used to engage in financial and banking sectors when opening business ventures in Indonesia, but they are now beginning to turn to other sectors, such as plantation, infrastrusture and agriculture. (Antara News/toeb/mr/ton)

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Pengusaha Timteng Jajaki Investasi di Kalbar

Posted on 29 June 2010 by imeu

Para investor asal Timur Tengah (Timteng) menjajaki peluang berinvestasi di Kalbar. Mereka didampingi Duta Besar dan Kadin masing-masing negara, menggelar pertemuan dengan stakeholder Kalbar, Selasa (29/610) di Hotel Grand Mahkota.

Dua dubes Timteng untuk Indonesia yakni Yordania dan Palestina. Sementara Libya, Sudan, dan Syria masing-masing mengirimkan wakilnya.

Para pengusaha Timteng yang hadir sebanyak dua belas orang. Masing-masing lima orang dari Jordania, lima orang dari Abu Dhabi dan Dubai, dan dua orang perwakilan perusahaan Libya yang ada di Indonesia.

Mereka saling bertukar informasi dan berdiskusi dalan forum Indonesia-Middle East update, bertajuk “Promoting Trade, Investment and Tourism Cooperation”. Beberapa bupati tampak hadir pula di forum tersebut.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Ekspor Kalbar ke Timteng Hanya 188,6 Ribu Dollar

Posted on 28 June 2010 by imeu

PONTIANAK,TRIBUN - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Indonesia (Kadin) Kalbar Soetaryo Soeradi mengatakan nilai perdagangan atau ekspor dari Kalbar menuju negara Timur Tengah (Timteng) masih sangat minim.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) nilai ekspor Kalbar pada 2008 untuk tujuan Timteng hanya 188,6 ribu dolar AS dibandingkan total nilai ekspor keseluruhan.

Forum Indonesia-Middle East Update yang akan diselenggarakan di Pontianak pada tanggal 29-30 Juni ini diharapkan dapat mendorong peningkatan ekspor Kalbar ke Timur Tengah dan juga investasi Timur Tengah di Kalbar.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Timur Tengah Jajaki Investasi di Kalbar

Posted on 23 June 2010 by imeu

PONTIANAK, TRIBUN – Sebanyak 10 duta besar negara-negara di kawasan Timur Tengah hendak menjajaki kemungkinan menanamkan investasi di Kalbar. Mereka juga menggandeng Kadin masing-masing, untuk dipertemukan dengan pelaku usaha lokal.

Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemprov Kalbar, Johannes Numsuan Madsun, Rabu (23/6/10) saat dihubungi Tribun, mengatakan, pertemuan tersebut direncanakan pada 29-30 Juni di Hotel Grand Mahkota, Pontianak.

“Mereka tergabung dalam forum Middle East Update, yang dibentuk oleh Kementerian Luar Negeri, direktorat Asia Pasifik dan Timur Tengah,” kata Numsuan.

Forum ini bertindak menjembatani para pengusaha yang ingin menanamkan modal di provinsi-provinsi di Indonesia, termasuk Kalbar. Numsuan sendiri masih belum mendapatkan informasi, di bidang apa saja Timteng tertarik berinvestasi di daerah ini.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Indonesia – Middle East Update III in Pontianak, West Kalimantan, 29 – 30 June 2010

Posted on 20 June 2010 by imeu

Indonesia – Middle East Update: Promoting Relation and Cooperation in the Field of Trade, Investment and Tourism is an annual business event (plus tourism excitement) jointly held by the Ministry of Foreign Affairs, Republic of Indonesia and provinces governments as well as in cooperation with the Indonesian Missions in the Middle East countries.

The Event, which does not require any registration fee (free of charges), consists of several attractive business activities aiming at promoting greater economic cooperation between Indonesian entrepreneurs (including small and medium enterprises) and Middle East business communities. It gathers businessperson from various fields or business cores — ranging from products of mining, plantation, agriculture and horticultura, forestry, livestock, fisheries, food and beverages, etc.

On 29th – 30th June 2009, the Event will be convened in Grand Mahkota Hotel, Pontianak, West Kalimantan Province which is located precisely on the Equator line.

The Committee welcomes all of the applicants who are willing to come to the Pontianak, Indonesia for grabbing the chance of business and investment meeting and enjoying the leisure of tourism resorts and attractions. In due course, the Committee is looking forward to welcoming the participants in the Supadio International Airport of Pontianak. In addition, by arranging several business activities plus pleasure gathering and visiting the most exciting and beautiful resorts in the West Kalimantan Province, the Committee will make sure that participants get gentle, remarkable and comfortable companion during their participation in the Event of Indonesia – Middle East Update.

Similar to the Committee, the people and the high ranks officials of West Kalimantan Province Authorities are glad to entertain the Middle East businessmen. In this regard, the welcoming dinner and cultural performance will be presented by local Government and the committee.

Our best effort and commitment to prepare and accomplish the Event prove Indonesia’s seriousness in promoting better economic cooperation with the international, particularly Middle East business community.

See you soon in Pontianak.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

International Exhibitions (June – July 2010)

Posted on 19 June 2010 by imeu

Along with the IMEU activity, Middle East businessmen are also able to attend some big events hold in Jakarta, both carried out before and after the IMEU, among other are:

  1. Indonesian Creative Products Week (JCC, 23 – 27 June). Come, explore the creative industries and art-culture of Indonesian archipelago based on information technology. It’s not only an exhibition of handicrafts, arts and culture of Indonesia. Here you can take the stand direct results of the development of information technology to support creativity, skill and talent in creating creative individual who produces environmentally friendly creative products. Please access to http://www.pekanprodukkreatif.com.
  2. Asia Pacific Coating Show 2010 (JCC, 23 – 24 June): an international exhibition in coating industrial and paint (s) for raw material suppliers and equipment manufacturers for the coatings industry. For further information please access http://www.coatings-group.com.
  3. Jakarta Fair 2010 (JI Expo, 10 June – 17 August): an international trade fair hold in Jakarta International Expo Area. It displays and sells foreign and domestic products. Information in detail, access to http://www.jakartafair.biz.
  4. Indobuildtech Jakarta 2010 (JCC, 30 June – 4 July): an international exhibition in the field of construction, building materials, equipments and construction technology. Website http://www.indobuildtech.com.
  5. Indo Livestock Expo (JCC, 6 – 11 July): an international exhibition in industrial animal husbandry, fodder, livestock products, livestock drugs, bio-security implementation,  system of modern agriculture and animal husbandry, processing technology, livestock, and farm technology. For more information, please access to http://www.indolivestock.com.

Posted in IMEU III 2010 Pontianak | Comments Off | Edit

Vietnamese Investor Eyeing Corn in West Kalimantan

Posted on 11 June 2010 by imeu

Pontianak (ANTARA News, 5 April 2010) – A Vietnamese investor said it was set to make an investment in the agriculture sector, especially corn, in Kubu Raya regency. “The Vietnamese investor has met with the local administration and hoped it could start investing this year,” head of the West Kalimantan capital investment coordinating board M Zeet Hamdy Assovie said in Pontianak Sunday.

He added that actually Vietnam was only one of the countries whose investors were interested in food crops in Indonesia. “Investors from South Korea, Japan, and China were also interested in investment in West Kalimantan, because the province has vast plots of fertile land,” he said. West Kalimantan, he added, ranks ninth of the big ten countries with an interest in investment in Indonesia. The West Kalimantan investment board is preparing a one-door integrated regional service, which is currently being introduced to Singkawang city, Bengkayang and Sambas regencies, M Zeet Hamdy Assovie said. Nationally, the national investment coordinating agency (BKPM) has projected 70 one-door integrated service centers in 2010

Posted in IMEU I 2010 Medan | Comments Off | Edit

Brief info of Pontianak, Capital City of West Kalimantan Province

Posted on 10 June 2010 by imeu

Pontianak is the capital of the Indonesia province of West Kalimantan. It is a medium-size industrial city on the island of Borneo, among Indonesian, Borneo Island is called Pulau Kalimantan. Pontianak occupies an area of 107.82 km² in the delta of the Kapuas River, at approximately 1143 km, the longest river in Indonesia and the 133rd-longest river in the World by length. It is located precisely on the equator, hence widely known as Kota Khatulistiwa (Equator City). Pontianak is about 1 hour flight from Jakarta.

History

The city was formerly the capital of the independent Sultanate of Pontianak and was founded in 1772 around an old trading station on the Borneo coast. It is built on swampy ground that is subjected to regular flooding by the river, requiring buildings to be constructed on piles to keep them off the ground. It has its name due to the story that the founder had seen appearance of pontianak ghost at the place to be built for the palace, which he fought to save the people.

Economy

Pontianak is renowned for its food and regional produce. The main industries are shipbuilding and the production of rubber, palm oil, sugar, pepper, rice and tobacco. It was formerly Borneo’s main centre for gold extraction. Pontianak is also recognised for being a trade hub between overseas cities and other cities in West Kalimantan province. It has also strong trade link with the city of Kuching, Malaysia. Trading activities are centered along the Kapuas River, which range from easternmost part of West Kalimantan province to South China Sea.

Education

There are college and university operated by both state institutions as well as private and religious institutions. The University of Tanjung Pura, a state university, was established in Pontianak in 1963. In addition to this, there are other universities maintained by private institutions. Muhammadiyah University, University of Widya Dharma, University of Panca Bhakti, STMIK (Sekolah tinggi Manajemen Informatika dan Komputer), University of Panca Bhakti, State Islamic collage (STAIN), POLNEP (Politeknik Negeri Pontianak), etc.

Demographics

The 2000 census put Pontianak’s population at about 472,220, with an intercensal estimate in 2006 of 509,804. Pontianak is a multicultural city. It has a large population of Chinese alongside the native Malay and Dayak local ethnic groups, living along side Javanese, Bugis, Batak, Minang, Madurese, Sundanese, Balinese, Ambonese and Papuan migrating from all over the country. In fact, Chinese form the largest single ethnic group in the city. Most Chinese are of either Teochew or Hakka extraction. Teochew is the main lingua franca used among the Chinese, and Teochew are the dominant ethnic Chinese group in Pontianak. Native Indonesians are mainly Malay and Dayak people. Madurese and Javanese are also significant minorities. Most citizens of Pontianak use Malay accent of Indonesian, which is somewhat similar to that used in Malaysia.

Transportation

Most populated are car and motorcycles as personal transport mean. Public transport includes bus, taxi, minivan (local: opelet), and rarity human-powered becak (three wheel). Inter city bus takes passengers to other nearby cities (2, 3, to 10 or more hours of travel), even to Kuching, a city in Malaysia.

Transportation to other part of Indonesia is mainly via airport and or harbour. There are more than 25 flights every day connecting Pontianak and Jakarta. There is also sea transport connecting Pontianak to Jakarta, Semarang, Cirebon and some other cities, including regional cities such as Ketapang in southern part of West Kalimantan. Flight services among others are Garuda Airways, Lion Air, Batavia Air, and Sriwijaya Air.

Subdivision

Pontianak has six subdivisons: East Pontianak, North Pontianak, Pontianak City, South Pontianak, South East Pontianak, West Pontianak

West Kalimantan Wait for Business Investment

Posted on 1 June 2010 by imeu

Acting Consul General of the Republic of Indonesian in Kuching, Rafail Walangitan present on the seminar held on 13th april 2010. The Seminar organised by Malaysia External Trade Development Corporation (MATRADE). on that seminar Acting Konsul, Rafail explain an opportunity doing business in West Kalimantan. He said the West Kalimantan government was establishing border development centres for various industries. There are several borders that can be stress for development such as in Sambas, Bengkayang, Sanggau, Sintang and Kapuas Hulu, with each area characteristic, provide suitable resources for different industries such as wood-based industries, food processing, forest products, retail and ecotourism. “This is a huge opportunity for Sarawak’s businessmen. Both Countries can cooperate and give more attention along the border”.

In the seminar, Acting Konsul Jenderal, Rafail said that Sarawak and West Kalimantan could co-operate in business and economic development for mutual benefit. “West Kalimantan can support the Sarawak Corridor of Renewable Energy in terms of supplying middle-range and skilled workers. Sarawak can support West Kalimantan in economic development as the province is the fourth-biggest in Indonesia and there is a wide variety of business opportunities there,” he said.

Moreover, Rafail said that West Kalimantan offered investment opportunities in agriculture, plantations, fishery, livestock, mining, tourism and infrastructure development. He said the West Kalimantan government had taken steps to enhance the investment climate by maintaining political stability, combating corruption, increasing law enforcement and improving investment policies and regulations.

Posted in IMEU I 2010 Medan | Comments Off | Edit

Bauxite Processing Factory in West Kalimantan Worth U.S. $ 900 Million

Posted on 30 May 2010 by imeu

15 April 2010 — PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) will build a bauxite processing plant into a commodity Smleter Grade Alumina (SGA) with a capacity of 1 million tons per year. To realize the company plans to cooperate with Hangzhou necromancer Group (HJG) from China, with an investment of about U.S. $ 900 million.

This was conveyed by the Corporate Secretary, PT Aneka Tambang Tbk Bimo Budi Satriyo issued a statement in Jakarta, Thursday (15/4/2010).

Cooperation plan between the company by HJG is a form of long-term investment. Bauxite ore processing plant into a commodity Mempawah SGA is located in West Kalimantan with a capacity of 1 million tons per year.

Signing of Joint Venture Agreement is planned to be conducted on 23-24 April 2010, when Prime Minister China visits to Indonesia. Estimated value of early projects is estimated about U.S. $ 900 million and for sure will be finalized during the entire study is completed.

He added, for developing nickel, the company also is conducting studies and looking for strategic partners in building a processing plant (smelter) of nickel to ferronickel in the territory of East Halmahera. Nickel ore smelter itself will be 27 thousand military capacity per year, with a total investment of U.S. $ 1.2 billion.

BI: PERINGKAT INVESTASI KABUPATEN/KOTA DI KALBAR

Posted on 27 March 2010 by imeu

Pontianak, 30/3 (Antara/FINROLL News) – Bank Indonesia (BI) Pontianak menyatakan sebagian besar daerah di Kalimantan Barat (Kalbar) belum masuk dalam peringkat investasi dengan skala tinggi.

Menurut Pemimpin Bank Indonesia Pontianak Samasta Pradhana di Pontianak, Selasa, di peringkat pertama yakni Kabupaten Sintang, Ketapang dan Kota Singkawang.

Kemudian Kabupaten Sanggau dan Sambas. “Termasuk juga Kota Pontianak. Daerah lainnya masuk kategori rendah,” kata Samasta Pradhana saat diskusi rutin dengan wartawan.

Ia melanjutkan, untuk menentukan peringkat investasi itu diantaranya dari jumlah uang beredar, jumlah bank, pelaku usaha, investor dan kondisi peraturan daerah yang mendukung dunia usaha.

Ia mencontohkan Kabupaten Sintang. “Infrastruktur perbankan di Sintang sudah baik meski infrastruktur fisik masih banyak yang rusak,” kata dia.

Perbankan di Sintang menjadi pusat kegiatan transaksi keuangan antarbank untuk kabupaten di sekitarnya seperti Melawi dan Kapuas Hulu. Ada 14 kabupaten dan kota di Kalbar.

Data dari Bank Indonesia, untuk pengumpulan dana pihak ketiga pada Januari 2010 di Kota Singkawang mencapai Rp1,4 triliun; Kota Pontianak Rp11,28 triliun; Kabupaten Sintang Rp820,11 miliar; Kabupaten Sanggau Rp1,022 triliun; Kabupaten Sambas Rp601,083 miliar; Kabupaten Pontianak Rp1,36 triliun; Kabupaten Landak Rp241,67 miliar; Kabupaten Bengkayang Rp250,84 miliar; Kabupaten Kapuas Hulu Rp446 miliar; Kabupaten Ketapang Rp1,062 triliun. Secara keseluruhan dana pihak ketiga di Kalbar Rp18,503 triliun.

Sedangkan untuk pinjaman, di Kota Singkawang Rp1,031 triliun; Kota Pontianak Rp5,057 triliun; Kabupaten Sanggau Rp1,89 triliun; Kabupaten Sambas Rp890,984 miliar; Kabupaten Pontianak Rp1,91 triliun; Kabupaten Landak Rp293,9 miliar; Kabupaten Ketapang Rp1,14 triliun; Kabupaten Kapuas Hulu Rp624,63 miliar; Kabupaten Bengkayang Rp552,7 miliar dan lainnya Rp15,6 miliar. Total pinjaman perbankan Rp14,341 triliun.

Sementara untuk perbankan, di Kota Pontianak terdapat 30 kantor cabang, 38 kantor cabang pembantu dan tujuh kantor pusat. Kabupaten Pontianak dua kantor cabang, empat kantor pusat dan enam kantor cabang pembantu.

Kota Singkawang ada enam kantor cabang, dua kantor pusat dan empat kantor cabang pembantu. Kabupaten Sambas empat kantor cabang, satu kantor pusat dan delapan kantor cabang pembantu. Kabupaten Bengkayang, satu kantor cabang dan empat kantor cabang pembantu.

Kabupaten Landak satu kantor cabang dan kantor cabang pembantu. Kabupaten Sanggau empat kantor cabang, dua kantor pusat dan tujuh kantor cabang pembantu.

Kabupaten Sekadau satu kantor cabang dan tiga kantor cabang pembantu. Kabupaten Melawi ada satu kantor cabang, satu kantor pusat dan dua kantor cabang pembantu. Kabupaten Sintang, empat kantor cabang dan tujuh kantor cabang pembantu.

Kabupaten Kapuas Hulu tiga kantor cabang dan dua kantor cabang pembantu. Kabupaten Ketapang, tujuh kantor cabang dan enam kantor cabang pembantu. Kabupaten Kayong Utara hanya ada satu kantor cabang.

Kantor pusat perbankan di daerah berbentuk Bank Perkreditan Rakyat milik swasta dan PT Bank Pembangunan Daerah Kalimantan Barat (Bank Kalbar) dengan modal utama dari pemerintah daerah.

Investasi di Kalbar Dijamin Tanpa Pungutan

Posted on 22 February 2010 by imeu

JAKARTA (Pos Kota, 21 Feb 2010) – Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar), Drs.Cornelis, menjamin pengusaha yang akan investasi di Kalimantan Barat tidak akan dipungut bayaran dan proses perizinan paling lama hanya 17 (tujuh belas) hari.

”Jangan sampai orang luar yang lebih banyak berinvestasi daripada masyarakat Kalbar sendiri,” tuturnya ketika peresmian kantor Persatuan Masyarakat Singkawang dan Sekitarnya (Permasis) di pertokoan Seasons City.

Ia mengambil contoh seperti jutaan hektar perkebunan kelapa sawit lebih banyak didominasi asal pengusaha Medan, Riau, Malaysia dan Singapura. ”Orang Kalbarnya belum ada,” jelasnya.

Padahal masih banyak peluang seperti Bengkayang, Kubu Raya, Sintang, Melawi, Ketapang dan Kapuas Hulu, semua daerah ini potensi sumber daya alamnya luar biasa, pertambangan, bauxite, uranium dan fasilitas perbankan sangat banyak. ”Presiden menyediakan pendanaan untuk usaha kecil dan menengah sebesar Rp 20 Triliun, jika ini bisa dimanfaatkan dapat membuka lapangan pekerjaan, mengentaskan kemiskinan dan masuknya pendapatan daerah.” harapnya.

Untuk memajukan daerah Kalimantan Barat, kini tengah dibuat 5 pintu gerbang untuk menghubungkan Malaysia, di Sambas-Bengkayang-Tikong-Sintang dan Kapuas Hulu, melalui 5 pintu gerbang ini meningkatkan ekspor batu bara, bauxite, pertanian dan hasil kayu industri.

”Kita harus siap menghadapi pasar bebas dari China, jangan sampai daerah ini menjadi pasar produk China, tapi kita harus bisa juga mengekspor ke China karena penduduk China yang melebihi 1 miliar jiwa juga harus makan dan membutuhkan beraneka ragam produk, kita bisa ekspor jagung, beras atau lainnya yang dibutuhkan. Wilayah lain yang potensial seperti Timur Tengah dan Afrika juga memerlukan perhatian untuk dikerjasamakan secara ekonomi,” ucap gubernur.

Gubernur Kalbar ini juga mengutip ayat Alqur’an, “Nasib kita berubah atau tidak tergntung pada kaum itu.” Sekarang yang mau mengubah Indonesia, Kalimantan Barat yang makmur, sejahtera dan damai, itu tergantung kepada masyarakat Kalbar.” jelas gubernur dan sampai saat ini baru 3 orang asal masyarakat dayak yang menjadi jenderal, beberapa menjadi pengusaha sukses. Luas Kalimantan Barat,14.680.700Ha (146,807Km2) setara 1,13 dari luas pulau jawa, penduduknya diperkirakan 5 juta jiwa.