Former IMEU

Kegiatan Indonesia – Middle East Update: Peningkatan Hubungan dan Kerjasama Perdagangan, Investasi dan Pariwisata (IMEU), secara regular dilaksanakan oleh Direktorat Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri RI bekerjasama dengan perwakilan-perwakilan RI dan Pemerintah Provinsi tempat acara dilangsungkan.

Pada tahun 2010, IMEU telah dilaksanakan di Medan, Sumatera Utara dan Bandung, Jawa Barat. Tingkat partisipasi pada kegiatan ini cenderung mengalami peningkatan dan manfaat yang dapat diambil oleh para pengusaha dibawah binaan Kadinda dan Pemprov antara lain melalui bidang perdagangan dan PMA.

Indonesia-Middle East Update
Upaya Perluas Potensi Pasar Dagang  Sumut -Timur Tengah

MEDAN | DNA berita – Pertemuan kelompok ahli Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia dalam menjalin hubungan Indonesia-Timur Tengah (Timteng) untuk memperluas potensi pasar/perdagangan (trade) di Timur Tengah, khususnya hasil-hasil komoditi Sumatera Utara.

Duta Besar LB&BP RI untuk Kerajaan Yordania-Palestina, Zainulbahar Noor kepada wartawan, di sela-sela acara tersebut mengatakan Yordania termasuk negara Arab/Timur Tengah dan Selatan Barat Asia yang berbatasan dengan Syria disebelah Utara, Irak di Timur Utara, Saudi Arabia di Timur Tengah dan Israel. Termasuk negara yang cukup potensial bagi Indonesia dan Sumut untuk mengembangkan pasar ke sana.

“Sejarah menunjukan bahwa hubungan antara Indonesia dengan Kawasan Timur Tangah sudah terjalin ratusan tahun yang lalu.Latar belakang ini begitu menguat hingga kini, dan ini sudah jadi modal untuk kita jalin terus kerjasama perdagangan timbal balik.

Dia menjelaskan, salah satu menifestasi dari bentuk kedekatan antara Indonesia dan Timur Tangah selain hubungan sejarah dapat juga terlihat melalui antusiasme masyarakat Timur Tengah dalam membantu Indonesia menangani bencana Tsunami di Aceh-Nias. Bantuan yang diberikan oleh negara-negara Timur Tengah sangat signifikan dalam bentuk bantuan hibah dengan total mencapai U$D832 juta.

Negara-negara Timur Tengah sendiri secara rata-rata memiliki pertumbuhan ekonomi sebesar sebesar 5,8% pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 6,1% pada 2008. Sedangkan pertumbuhan negara maju pada 2007 sebesar 2,2% lalu menurun menjadi 0,8% pada 2008. Tingkat investasi pada 2009 di Timur Tengah senilai U$D56 miliar mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008 senilai U$D307,6 miliar.

“Kondisi ini tetap prospektif bagi pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke Timur Tengah. Oleh sebab itu, Indonesia perlu diverifikasi pasar ekspor ke pasar non-tradisional sebagai langkah alternatif mengembangkan ekspor non-migas,” kata Zainulbahar dalam acara Indonesia-Middle East Update di Hotel Arya Duta lantai 9 Medan.

Nilai ekpor Indonesia ke Timur Tengah meningkat rata-rata 18,75% per tahun. Adapun pertumbuhan ekspor non-migas Indonesia ke pasar non-tradiosional seperti Timur Tengah sebesar 16,9% pada 2008. sedangkan ke pasar tradisional hanya 8,8%. Neraca perdagangan Indonesia ke Timur Tengah mengalami surplus U$D2,1 miliar dengan nilai ekspor U$D2,8 miliar pada 2006 dan naik menjadi USD3,53 miliar pada 2007. Dan, pada 2008 (periode Januari-Oktober) surplus Indonesia sebesar U$D2,8 miliar dari total ekspor U$D4,2 miliar.

Jika, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, kenaikan ekspor non-migas mencapai 25,64%, Sepuluh komoditi utama ekspor non-migas ke Arabia, Iran, Quwait, Qatar, Yaman, Jordan, Oman, Syria, Lebanon meliputi minyak sawit, kendaraan bermotor, kertas, plywood, veeners, new pneumatic tire, insulated wire, margarine, susu dan krim, besi,plat dan receipt apparatus for radiography.

“Selama ini, ekpor non-migas Indonesia masih terkonsentrasi di pasar tradisional seperti Jepang, Amerika Serikat, Uni Eropa, China dan Asean dengan pangsa pasar 86% dan sisanya pasar non-tradisional,” ujar Noor yang didampingi Staf Ahli Menlu Bidang Hubungan Kelembagaan, Hamdani Djafar.

Middle East Update 2010 “Sumatera Utara Prospektif”

Rabu, 31/03/2010 – 03:56 — KADIN Sumut

Indonesia Middle East 2010
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara menyatakan siap memberi pelayanan baik termasuk berbagai kemudahan bagi investor kawasan Timur Tengah maupun investor lainnya yang berinvestasi di daerah ini.

“Justru itu para investor tidak perlu khawatir terhadap pelayanan
termasuk memprioritaskan proses perizinan melalui sistem pelayanan satu atap,” kata Gubsu H Syamsul Arifin SE menjawab wartawan di Medan,
Selasa (23/3).

Seusai membuka Indonesia Middle East Update-Peningkatan Kerjasama di Bidang Perdagangan, Investasi dan Pariwisata di Hotel Aryaduta, gubernur menyatakan Sumut sangat potensial di berbagai sektor usaha termasuk iklim investasi cukup kondusif. Meski ada kekurangan di bidang infrastruktur di sana-sini namun terus dibenahi secara bertahap.

Syamsul mengajak pegusaha kawasan Timur Tengah untuk meningkatkan hubungan kerjasama bisnis dengan pengusaha daerah ini yang saling menuguntungkan kedua belah pihak. Begitu pula pengusaha Sumut dapat memanfaatkan peluang investasi di kawasan Timur Tengah yang sangat strategis. Artinya jangan menyia-nyiakan kesempatan dalam berbisnis. Bisnis hari ini harus dengan investasi.

“Dulu orang Timur Tengah membeli rempah-rempah dari Sumatera Utara dan Aceh. Ini artinya hubungan bisnis antara Indonesia-Timur Tengah sudah lama terjalin. Karena itu hubungan bisnis perlu dibangkitkan kembali”, ujar gubernur didampingi Ketua Umum Kadinsu Irfan Mutyara, Direktur Eksekutif MT-GT, Khairul Mahalli dan Kadis Perindag Medan Drs HT Basyrul Kamali MM. Hal senada diungkapkan Dubes Luar Biasa RI untuk Kerajaan Yordania dan Palestina Zainulbahar Noor, hubungan Indonesia dengan kawasan Timur Tengah sudah terjalin ratusan tahun.

Dia menyebutkan kedekatan Indonesia dengan banyak negara kawasan Timur Tengah dari perpektif ekonomi kemudian menjadi peluang untuk bekerjasama dalam bidang perdagangan dan investasi. Salah satu negara Timur Tengah yang berpotensi untuk bekerjasama dengan Indonesia adalah Irak. Dalam konteks Irak

katanya Indonesia memiliki peluang besar dengan adanya kebijakan Presiden AS Obama untuk mempercepat penarikan mundur Pasukan AS dari Irak per Agustus 2010. Kondisi ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk melakukan penetrasi pasar di Irak. Soalnya dari segi sumber daya, Irak merupakan negara penghasil minyak terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi.“Irak punya cadangan minyak 112,6 miliar barel. Irak cukup penting dalam konstelasi ekonomi dunia,” kata Zainulbahar.

Plh Direktur Timur Tengah, Abdul Muin mengakui Bandung dan Medan memiliki potensi luar biasa termasuk potensi strategis di bidang ekspor. Sumut dan Jawa Barat ini memiliki aset kultural untuk daya tarik kepariwisataan yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Karena itu Direktorat Timur Tengah dapat meningkatkan hubungan kerjasama di bidang perdagangan, investasi dan pariwisata,” ucap Abdul Muin didampingi Kadis Perindag Sumut Drs Hasby Nasution dan Arthur Batubara (Kadinsu) sebagai nara sumber pada Indonesia-Middle East Update itu.

Ketua Umum Kadinsu, Irfan Mutyara yang ditanya secara terpisah melihat kawasan timur tengah memiliki peluang pasar ekspor cukup prospektif. Justru itu diharapkan pengusaha Sumut harus lebih aktif menjalin kerjasama bisnis dengan Pengusaha Timur Tengah.

Anggota DPD-RI Bidang Sumberdaya Ekonomi, Parlindungan Purba yang diminta tanggapannya ditempat terpisah mengatakan eksportir sumut perlu melirik kawasan TImur tengah yang sangat strategis disamping negara tujuan ekspor lainnya.

Sementara itu Wakil Kadin Medan yang juga ketua GPEI sumut menjelaskan hingga kemarin petang sudah ada kesepakatan bisnis beberapa pengusaha Sumut dengan Timur Tengah. “Sejumlah pengusaha Timur Tengah, Rabu (24/3) hari ini akan mengunjungi Kawasan Industri Medan untuk menjajaki berbagai kemungkinan investasi” Jelas Khairul Mahalli.

Para pengusaha timur tengah dan indonesiayang tergabung Forum Indonesia Middle East Updates tertarik terhadap potensi sayur mayur dan rempah-rempah dari Sumut untuk dipasok ke kawasan Timur Tengah.